Nobar Premier Film Everest Bersama NatGeo

Halo!!!
Selamat bulan September...! Bulan-bulan dalam setahun terasa cepat berlalu yah..
Kembali lagi ngeblog setelah sekian lama hehe. Apakah ada yang menanti blog eke? *ting-ting

Kali ini eke akan bercerita tentang pengalaman nobar premier film Everest. Suatu hari, waktu eke dan temen-temen nonton film Sinister di bioskop... biasa kan ya.. ada teaser film-film terbaru sebelum film utama dimainkan. Nah, waktu itu muncullah teaser film Everest, dalam hati 'Wih, ni film cocok banget nih buat eke...' (halah sok-sokan nyocokin hwehehe). Cukup penasaran juga sih, tapi terbersit juga di hati 'Halah, kalau nonton film tentang gunung gini mana ada yang mau nemenin..' Hingga sampai lah pada suatu malam ba'da isya saat eke lagi ga jelas glundung-glundung di kasur kosan.. tringgg... ada email masuk dari NatGeo (btw eke ikut newsletter NatGeo dan langganan majalah NatGeo traveler-nya juga) dengan subyek: Undangan Pemutaran Perdana Film Everest di IMAX 3D. Eke cermati isi emailnya dalam-dalam, takut kalau misalnya ada pungutan biaya atau gimana gitu kan... (kismin banget sih haha), di akhir badan emailnya di situ tertera: Kuota terbatas! Segera lakukan reservasi dengan membalas email ini dengan nama lengkap Anda dan nomor kontak yang dapat dihubungi.


Eits... rasanya pengen cepat-cepat balas itu email tapi eke memutuskan untuk cari tahu tentang akses menuju lokasinya. Mall Gandaria City, eke pernah nglewati itu mall yang kelihatan kece banget dari luar duluuu... waktu naik mobil barengan temen-temen eke dalam rangka kondangan. Tapi kalo tanpa kendaraan pribadi dan mesti naik kendaraan umum, gimana caranya??? Setelah berkonsultasi dengan Moni, dia menginformasikan bahwa mall'nya ada di daerah JakSel, bisa diakses dengan KRL turun di stasiun Kebayoran. Wah, tepat sekali! Info dari Moni benar adanya, setelah ngecek di peta.. antara stasiun Kebayoran dan mall'nya hanya berjarak sekitar yah.. 3 km-an. Pikir eke waktu itu: habis turun dari KRL lanjut naik Go-Jek, lumayan kan tarifnya lagi flat IDR 10,000. Kala itu juga dengan PDnya eke nawarin ke Moni untuk ikut acara itu.

Setelah yakin dengan cara menuju mall itu, eke langsung cepat-cepat balas email itu. Bagai mendapat durian runtuh, dan takut kalau-kalau kuotanya sudah habis. Lima menit, 10 menit berlalu... belum ada konfirmasi balasan dari email itu.
Satu jam berlalu... tak kunjung juga ada balasan. Ya sudah lah. Bisa jadi kuotanya sudah habis.

Hari berikutnya di siang hari bolong, baru lah ada sms dari seseorang yang bernama Dio menginformasikan untuk mengonfirmasi kehadiran. Eke waktu itu balas dengan: apakah nomor ini bisa ditelepon untuk informasi lebih lanjut? Dia membalas: boleh.Akhirnya eke telepon itu orang, bertanya apakah bisa mengajak orang satu lagi selain undangan? Dio menjawab: hanya nama yang berlangganan majalah saja yang bisa ikut acara itu. Ya sudah Moni, maafkan aku tidak jadi mengajak dirimu.

Waktu hari-H, hari Kamis. Hari itu eke cepat-cepat pulang dari kantor. Mandi (biasanya jarang hehe), dandan yang rapi, lalu lanjut ngebut naik motor ke stasiun Rawabuntu. Kala itu agak harap-harap cemas sih, jam 17.45 eke sudah tiba di st. Kebayoran, hampir magrib... tapi belum, eke mesti buka puasa waktu itu dan bodohnya eke ga bawa bekal apa pun. Keluar dari pintu stasiun, sayang sekali di situ terdapat spanduk yang bertuliskan: ojek on-line dilarang mengambil penumpang atau menurunkan penumpang dari dan ke st. Kebayoran. Huhu, pupus sudah harapan eke menggunakan jasa gojek. Padahal kan lumayan kalo naik ojek bakal mempersingkat waktu. Berjalan menyusuri pintu depan st. Kebayoran sambil acuh dengan tawaran ojek konvensional, eke PD aja naik Kopaja yang bertuliskan Gandaria City. Padahal sama sekali tuh eke belum ada pengalaman naik kopaja jurusan ini.

Berusaha tenang, eke pengennya sih segera sampai di lokasi biar segera buka puasa, solat, jadi ga telat deh datang ke acara itu. Tapi apadaya jalanan cukup macet, dan... ketika ditagih uangnya oleh kernet Kopaja, eke langsung bilang: "Gandaria City, Bang!" "Nanti turun Mayestik ya, nyebrang, naik yang nomor ini lagi". Huhuhu..... kirain 1x angkut. Ya sudah, setelah pindah-pindah Kopaja... akhirnya eke sampai juga di Gandaria City.

Agak clingak-clinguk juga sih di situ, kan eke belum pernah ke sana. Pertama-tama eke segera cari yang namanya musholla. Selesai solat, karena udah pukul 18.30... eke langsung menuju IMAX studio. Sesampainya di sana registrasi sebentar, dapat tiket, dan ternyata acaranya dimulai pukul 19.00. Fyuh, baik lah... eke jadi punya waktu untuk makan.Alhamdulillah.

Ini tiketnya (maaf ga bisa dirotate, meski sudah dicoba T_T)

Selesai makan, wah.. pas bangett. Antrian penonton mulai memasuki studio. Eke cepat-cepat ambil posisi. Di tempat duduk area tengah agak ke atas, terdapat bangku-bangku yang ditempeli tulisan: NGI reserved. Dengan PD-nya eke langsung ambil posisi di situ. Dalam hati 'Wih, baik banget nih NatGeo,bookingin tempat nonton yang strategis pakai banget'. Agak lama duduk di situ, eke mikir 'Eh, tiketku kan tulisannya UIP ya..'. Sebaris di atas bangku yang ditempeli NGI reserved, terdapat bangku yang ditempeli UIP reserved. Tanpa berpikir panjang, eke pindah ke bangku UIP reserved. Setelah beberapa waktu, ada orang yang bertanya kepada saya "Mbak darimana?" "Saya undangan dari NGI" "Oh, tempatnya bukan di sini mbak" "Tiket saya tulisannya UIP tuh.." "Iya, tetapi ini khusus untuk staf UIP. Maaf." Kembali ke bangku NatGeo reserved. Tak lama berselang datang seseorang bertanya "Maaf, mbak dari mana?" "Undangan NatGeo" "Kenalannya siapa?" "Maksudnya?" "Mbak diundang dari mana?" "Undangan dari email" "Mohon maaf bangku di sini khusus untuk direksi NatGeo" "Terus saya harus duduk di mana?" "Bisa di mana saja, asal bukan di sini. Mohon maaf."
Acara talkshow yang menampilkan kilas balik NatGeo meliput Everest


 
 

Setelah merasakan pahitnya dipingpong, eke akhirnya mendapatkan tempat duduk di area kiri karena area tengah rupanya sudah dipenuhi penonton, bersebelahan dengan sepasang muda mudi. Acara pun dimulai. Dibuka oleh MC dengan gaya bicara yang gaul. Menurut si MC, Everest dengan majalah NatGeo memiliki keterikatan, terbukti di majalah tsb sering menyajikan artikel-artikel tentang pegunungan Himalaya. Setelah sesi talkshow berakhir, akhirnya film diputar.
3D!
Film menceritakan tentang kejadian nyata tragedi Everest tahun 1996 berdasarkan buku yang ditulis oleh Jon Krakauer, seorang jurnalis sekaligus anggota yang selamat saat megikuti ekspedisi tsb. Di film tsb memberikan pemandangan tentang pendakian Everest yang kala itu dipimpin oleh Rob Hall. Melihat jalur pendakian dan penampang geografis Everest melalui layar lebar saja sudah membuat eke merinding. Jalurnya fatal! Eke jadi tahu bahwa mendaki Everest tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, seminggu misalnya, namun sebulan lebih karena pendaki mesti melakukan pendakian aklimatisasi di sekitar basecamp Everest (kalo ga salah 5000an mdpl). Pendakian aklimatisasi tsb dilakukan agar tubuh beradaptasi dengan lingkungan dataran tinggi, sehingga dapat mengurangi risiko terkena penyakit ketinggian. Pendakian aklimatisasi ini dilakukan kurang lebih selama 1 bulan. Bayangkan 1 bulan naik turun gunung...fyuh!

Eke juga bisa melihat sikap Rob Hall yang sebagai guide pendakian waktu itu sangat sabar menghadapi klien, dimaki-maki apapun namun tetap sabar, mengusahakan klien dapat mencapai puncak meskipun mempertaruhkan keselamatan dirinya dan klien. Di sini yang menjadi poin yang perlu diperhatikan buat pendaki-pendaki juga sih. Tetap ingat SAFETY FIRST, pendaki itu keren jika dapat pulang kembali dengan selamat sampai rumahnya. Yah, meskipun takdir tak dapat dilawan namun keselamatan dapat diusahakan.

Plot film selengkapnya dapat dibaca dimari yah. Ada beberapa kalimat yang cukup mengena dihati:
  • "Mengapa mendaki gunung? Padahal mendaki banyak efek negatifnya. Misalnya: menyakitkan, menghabiskan uang, dan merusak hubungan." Jawabannya "Ingin melihat keindahan yang tidak dilihat orang lain". Wah... iya betul!
  • Gunung selalu menang. Ya iya sih, manusia mau mengusahakan keselamatan seperti apapun, mau mendaki sampai puncak, mau pencilaan di lerengnya. Ingat, gunung yang akan selalu memenangkan permainan.
Puas rasanya menonton Everest, apalagi dengan tampilan 3D. Everest, Nepal memang cantik, anggun, dan gaharnyaaaa bikin merinding. Eke paling merinding kalau lihat visi kepulan kabut yang tampak tipis di puncaknya. Ada pameo pendaki yang cukup melegenda yang eke baca dari majalah NatGeo: "Pendaki datang pertama kali ke Everest karena gunungnya, selanjutnya mereka akan datang lagi karena penduduknya."

Yah dengan segala kecantikan, keanggunan, dan keramahan Nepal, semoga bisa menginspirasi kita dan semoga suatu saat bisa ke sana. Menginjak tanah tinggi di dunia.




Comments

Popular Posts