Gunung Prau & Dieng Culture Festival 29 – 31 Agustus 2014

Indah, indah, dan indah... Itulah rasa yang membekas di hati setelah mengunjungi Gunung Prau sekaligus mengikuti acara ruwat rambut gembel di Dieng Culture Festival 2014 (DCF). Ah, indahnya dataran tinggi Dieng, indahnya Indonesia. Perjalanan kali ini terbentuk karena salah satunya eke ngomporin kawan-kawan kantor bahwa di akhir Agustus 2014 bakal ada festival budaya di Dieng, maka alangkah komplitnya jika sekalian mendaki Gunung Prau. Tujuan pribadi eke sebenernya ya Gunung Prau itu sendiri – ingin menggapai keindahannya, sedang DCF sebagai selingan untuk mengisi hari-hari di Dieng sana. Terbayang festival seperti itu bakal dibanjiri wisatawan, dan kemungkinan besar mengurangi kenyamanan untuk menikmati Dieng. Yah, namanya juga jalan-jalan.. semuanya harus dinikmati apa pun kondisinya.    
My first train ticket!
Perjalanan kali ini dipimpin oleh Pak Viki selaku trip leader - yang mengatur jadwal, oper-operan transportasi, itung-itungan biaya iuran, serta mengajak beberapa kawan BPI yang telah dia kenal. Titik pertemuan dengan kawan-kawan BPI adalah di Yogyakarta, sehingga jalur keberangkatan kami menjadi Tuban – Surabaya – Yogyakarta – Magelang – Wonosobo - Dieng. Meskipun jalur perjalanan yang kami tempuh ini bakal boros jarak dan waktu (mestinya lebih singkat via Tuban – Semarang – Wonosobo – Dieng), namun eke tetap antusias. Sekalian mengunjungi keluarga mas di Yogya dan yang paling membuat eke antusias adalah......... perjalanan Surabaya – Yogyakarta kali ini via KA Pasundan! Kereta api pertama yang akan eke naiki!!! (Udik yah? Hehe). 
Beside The Pasundan
Rute Pasundan. Kapan-kapan coba lagi, turun tempat lain. Tasikmalaya mungkin? Mengunjungi Gunung Galunggung :)
In the Pasundan
Mendekati hari-H kawan-kawan dari BPI kian lama kian bertambah. Hal ini cukup membuat kerepotan kawan-kawan kantor, pasalnya jumlah tenda kami terbatas. Anyway, kawan BPI itu nyatanya bawa tenda juga. Nah, di bawah ini peserta fix perjalanan ini:
Kawan Kantor
1.       Eke
2.       Mbak Ymu
3.       Eri
4.       Sam Herman
5.       Pak Viki
6.       Pak Bambang
7.       Yafar
Kawan BPI
1.       Kang Indra
2.       Mang Mengku
3.       Teh Cit
4.       Kak Ade
5.       Ibnu
6.       Akbar
7.       Adik Silma
Imbang yah... sama-sama 7 orang. Dua kubu rombongan ini berbeda suku, yang satu Jawa dan yang satu Sunda. Terbayang roaming-nya kalo masing-masing kubu berbicara bahasa daerah masing-masing. Kawan-kawan dari BPI ini rupanya easy going dan seru banget buat jalan bareng! Lucu-lucu sih. Btw, perjalanan kali ini bakal mengantar Mbak Ymu, Teh Cit, dan Eri menuju pendakian pertama mereka. Semangat yah! :D

Gunung Prau 2,565 mdpl 29-30 Agustus 2014
Basecamp Patak Banteng
Unsafe condition pake sandal, jangan ditiru. Sepatunya nabung dulu ^^
                Nyaris miskom dengan kernet bis yang berangkat dari Wonosobo, nyatanya perjalanan kami ternyata sudah berada di jalur yang tepat dan sampai di basecamp Patak Banteng dengan selamat sentausa. Alhamdulillah. Cukup lama menghabiskan waktu di basecamp untuk izin, melengkapi logistik, makan siang dll; kami memulai pendakian sekitar pukul 15.30. Terbayang nanti akan sampai di puncak selepas magrib. Tak apa, jalan terus! Dari awal rute sudah nanjak terus tak ada bonus, namun harus tetap istiqomah. Haha. Bonus baru ada setelah meninggalkan Pos 1, itu pun tak banyak alias nanjak kembali. Sambil terus mendaki di hari yang semakin sore, jalur pendakian Gn. Prau menawarkan keindahan panorama desa Dieng di bawahnya dalam balutan awan dan nuansa lembayung. Subhanallah. Eke pun jatuh cinta dengan pepohonan yang tumbuh di lereng Prau, cantik-cantik. (Kecintaan eke dengan pohon yang ada di situ tersalurkan dengan memeluk batang pohon cemara erat-erat, hehe.)
Nanjak tapi narsis
Man and the sunset
Ada yang mau meninggalkan negeri seindah ini? :)
                Pendakian kali ini mengantarkan eke dalam pengalaman baru:
1.       Di lereng Prau ini bakal terdengar suara adzan di tiap jamnya. Eke heran, perasaan jam 15.00 tadi sudah adzan. Lalu jam 16.00 dan jam 17.00 ada adzan lagi, hingga magrib lalu isya. Jelas ini membuat eke bingung. Selepas turun dari Prau, eke tanya penduduk sekitar dan memang begitu adanya, di tiap masjid memiliki waktu adzan yang berbeda-beda.
2.       Tertinggal (atau ditinggal) dari rombongan dan lanjut pendakian ke puncak hanya berdua dengan mbak Ymu, sesama newbie. Kala itu perasaan eke gamang saat mendaki bersamanya, eke sama sekali tak punya pengalaman muncak Prau yang kala itu sudah sampai di jalurnya yang galak - mendaki di lerengnya yang licin dengan berpegangan pada tali pengaman, penerangan hanya dari senter kepala eke, dan kami berdua sama-sama rabun! Tak lain dan tak bukan eke terus memantapkan langkah kakiku dan langkah kaki mbak Ymu dengan perlahan, mengucap bismillah dalam hati, dan meyakinkan dia untuk terus maju (padahal diri ini juga tak yakin). Sembari mencari-cari rombongan pendaki lain untuk kawan muncak, jaga-jaga jika ada kenapa-kenapa.
3.       Tiba-tiba termasuk jadi orang-orang yang tak solat saat muncak Prau. Arrrrrghhhh! Merepotkan sekali. Harus cari semak-semak di jalur puncak yang sempit itu, hiks. Namun nyatanya muncak berdua dengan mbak Ymu (yang cewek, ya iyalah) ternyata ada hikmahnya juga. Kalau rame-rame pasti jatuhnya jadi malu. Hehe.

Akhirnya adalah: Alhamdulillah kami berdua sampai di puncak dengan selamat sekitar pukul 18.30. J Camping di Prau saat musim kemarau pun pilihan yang tepat untuk merasakan dinginnya yang menusuk tulang. Kira-kira mencapai 5 degC saat tengah malam. Eniwei, di Prau ini hasrat eke untuk memotret galaksi Bimasakti pun tersalurkan. Meskipun masih kurang fokus karena tak sempat setting fokusnya gara-gara kamera tewas duluan. (Inilah salah satu alasan yang membuat eke ingin kembali ke gunung lagi: untuk memotret galaksi/bebintangan dengan hasil yang lebih oke.) Dan, project kecil untuk Palestina pun juga tersalurkan.


Aduh, belum fokus. Malu eh..
Testimoni untuk Prau: gunung yang tak terlalu tinggi dengan panorama yang menakjubkan!
Subhanallah wal hamdulillah.
Kalian semua dapat salam dari Gunung Prau!!!!


Panorama puncak Prau
Little project for Palestine :)
Jazz Atas Awan & Dieng Culture Festival 30-31 Agustus 2014
                Nah, setelah lelah mendaki dan menuruni Prau, kami lanjut menuju homes tay (merujuk pada pemenggalan kata yang tertera di salah satu plang home stay) yang ada di desa Dieng Kulon. Homes tay yang nyaman, lengkap dengan fasilitasnya yang ‘hangat-hangat’, dan muat ditinggali kami ber-14. Sore itu setelah antri kamar mandi demi menikmati air hangatnya, kami semua lanjut menuju kompleks Candi Arjuna untuk mengikuti acara Jazz Atas Awan sembari mencari makan malam. Entahlah, rombongan kami merasa tidak terkoneksi dengan rangkaian acara DCF ini. Mulai dari yang bingung mencari pintu masuknya (kami datang dari arah Candi Gatotkaca), jalanan menuju Candi Arjuna (dari Candi Gatotkaca) yang sama sekali tak berpenerangan di malam hari, dan tata suara Jazz Atas Awan yang jauh dari berkualitas. Namun semua itu terobati oleh kawan-kawan rombongan yang seru dan rentetan kembang api Jazz Atas Awan yang keren. Tak kuasa kami nonton Jazz Atas Awan sambil menggigil kedinginan, kami pun pulang sekitar pukul 22.30. Dan lanjut acara “saling mengenal lebih lanjut” di homes tay. Yah, malam itu berakhir dengan tawa riang dan lelah kami yang beradu jadi satu dalam kehangatan homes tay.
Happy faces under lantern
Pak Viki dengan lampionnya
Fly Our Best Wishes! Foto epik yang terpilih jadi foto pilihan harian & mingguan di fotokita.net ^^
             
Suasana guyub di dalam homes tay
Keesokan harinya, eke kembali jadi orang yang bangun pertama kali demi dapat masuk kamar mandi terlebih dahulu. Kawan-kawan yang lain masih bergelung dalam selimut masing-masing, padahal rencananya ada yang ngebet banget ingin naik Sikunir untuk mengejar sunrise. Eke maklum, pendakian Prau memang melelahkan ditambah kami harus berjalan untuk mencapai kawasan wisata satu dengan yang lainnya. Ada moda transportasi, tapi kami backpacker, dan percuma menyewa kendaraan saat DCF ini karena bakalan terjebak macet yang berkepanjangan.
Mau ikut ruwat rambut gembel? Antri dulu...
Prosesi ruwat rambut gembel
                
Berfoto di kompleks Candi Arjuna "Gandhiv dhari Arjuna..." (nyanyi Mahabharata)
Yup! Pagi itu siap-siap gempor demi kembali lagi ke kompleks Candi Arjuna untuk mengikuti prosesi adat ruwat rambut gembel. Kami harus rela berdesak-desakan dan antri lama untuk masuk ke area upacaranya. Kami hanya sebentar mengikut prosesi adat tsb lalu lanjut mengisi perut dengan menu khas daerah Wonosobo: mie ongklok+sate sapi. Sate sapinya sih nikmat dan laziz, tapi mie ongkloknya dengan kuah khasnya yang berlendir itu... Hm, mungkin kemarin kami makan di tempat yang salah atau memang mie ongklok seperti itu adanya. Hehe. Bagaimanapun kondisi mie ongklok tetap eke terima apa adanya dan nyatanya habis satu mangkok (doyan apa laper??)
Plang homes tay
Ini dia mie ongklok dan lauk sate sapi!
Sikidang Crater in Action
                Lanjut jalan ke Kawah Sikidang, kami berfoto-foto sejenak disitu. Ya, apalagi tujuan berwisata kalo ga foto-foto? Puas di Kawah Sikidang, kami lanjut naik ojek ke Telaga Warna. Kami semua sepakat menikmati Telaga Warna di atas ketinggian, alhasil kami harus trekking lumayan nanjak selama ± 30 menit ke Batu Pandang. Dan....kelelahan kami sangat sangat terbayar ketika sampai di situ. Panorama dari Batu Pandang sangat menakjubkan, ada gunung Prau disana dan tak hanya terlihat Telaga Warna tapi juga Telaga Pengilon! Kalo ke Dieng, maka sempatkan kemari! Dijamin tak akan menyesal!
Meet us above Telaga Warna!
Antri foto di Batu Pandang
Kebersamaan kami akhirnya terbatas oleh waktu. Hari semakin sore dan sopir bus yang sudah janjian dengan kami sudah menunggu di dekat homes tay untuk mengantar kami ke Wonosobo. Jadilah, kami segera kembali ke homes tay, menaiki bus dengan lelah, menikmati perjalanan dengan terkantuk-kantuk. Dan, selamat berpisah dan bertemu kembali kawan-kawan semua! Terima kasih telah menjadi memori bahagia di pikiranku!! J
Testimoni untuk DCF: panitianya benar-benar pandai menggalang massa untuk mengunjungi acara ini. Sampai-sampai beli tiketnya saja harus berebut di dunia maya di waktu solat tahajud. Tapi, kualitas acaranya sendiri sangat-sangat butuh perbaikan.

Testimoni untuk Dieng: alam yang indah, subur, dan asri. Subhanallah, salah satu jajaran alam yang membuat eke bangga terlahir sebagai bangsa Indonesia.
Eniwei, untuk menikmati cerita perjalanan ini day by day yang lebih komplit... Silakan kunjungi blognya mbak Ymu di mari.
Dan ada videonya di Youtube! Hasil dokumentasi Kang Indra via GoPro. 

Hayuk, jalan-jalan keliling Indonesia dulu! Dijamin ga bakal tuntas walau sampai akhir hayat. Hehe. 

Telaga Warna & Telaga Pengilon dari Batu Pandang, keren!

Comments

  1. Ka mau tanya, lebih enak muncak prau dulu baru DCF apa sebaliknya yaa ?
    Teru untuk jaliur gn.prau sendiri itu jelas gak ka ? Apa banyak persimpangan..
    Makasih banyak sebelumnya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts