Wisata Kuliner Sejenak di Pecinan Semarang

Hola Huni-huni,
 
Kembali lagi setelah ngubek-ngubek file foto yang ada di hp eke, eke temukan sekelumit foto yang berantai tentang kuliner di Pecinan Semarang. Kenapa eke kasi judul ‘sejenak’? Ya karena ga ada niatan untuk wisata kuliner alias eke waktu itu berada disitu untuk tujuan lain dan makan hidangan yang dijual disitu untuk mengisi perut yang belum sarapan. Seperti biasa di wiken yang cerah, kadang mommy eke memilih untuk berbelanja di Pasar Gang Baru, Semarang daripada pasar-pasar tradisional lain yang lebih dekat rumah. Memang Pasar Gang Baru memberikan pilihan bahan-bahan makanan yang lebih segar dan beraneka rupa. Sayur mayurnya cantik-cantik, mulai dari yang biasa sampai yang biasanya terpajang di etalase berpendingin di supermarket. Katakan lobak, tomat ceri, peterseli, daun kol ungu, dsb. Beragam jenis daging dan ikan pun ada (kalo belanja n makan disini hati-hati ya huni x_x), yang cukup mengesankan penjual daging atau ikan disini melayani fillet yang hasilnya rapi dan bersih. Jarak Pasar Gang Baru dan rumah eke cukup jauh, sekitar 15 menit dengan perjalanan menggunakan mobil yang disetir poppy eke. Sesampainya di depan pasar, mommy berkata “Kowe ning jobo wae karo Bapak, kono golek sarapan.” (Kamu diluar aja sama Bapak, sana cari sarapan). Serta merta tanpa menjawab, eke yang agak durhaka ini biasanya menurut saja dengan perkataan mommy (iya agak durhaka, bukannya nemeni mommy belanja n bantu bawa barang-barang malah enak-enak cari sarapan). Kemudian beberapa detik kemudian mommy akan hilang di tengah keriuhan Pasar Gang Baru di pagi hari. Nah, saat itu eke akan berjalan menyusuri ruas parkir di samping pasar mendekat ke gerobak mie kopyok.
 
Mie Kopyok samping Pasar Gang Baru dengan sambal yang udah diambil poppy eke (eke ga doyan pedes)
Banyak pilihan makanan yang ada di sekitar Pasar Gang Baru, namun di kawasan Pecinan mestinya sebagai seorang Muslim harus selektif memilih makanan yang akan disantap. Di Pasar Gang Baru sendiri tempat makan yang biasanya disambangi eke n orang tua adalah: mie kopyok gerobakan yang dijajakan di samping pasar dan warung soto ayam di seberang pasar, keduanya dijual oleh orang Jawa. Mommy n Poppy lebih tertarik makan di warung soto ayam yang menurut mereka rasanya enak, eke sendiri kurang tertarik makan disitu karena tampilan warungnya yang kurang higienis dan bekas makanan yang berserakan dimana-mana. Meskipun mie kopyok yang lebih eke sukai juga tidak terjamin ke-higienis-annya. Selanjutnya, mie kopyok Pasar Gang Baru ini menjadi favorit eke setiap eke nemeni mommy pergi ke Pasar Gang Baru.

Suasana di Pasar Gang Baru
 

Engkoh-engkoh yang melayani pembelian mommy eke
 

Mie Kopyok Samping Pasar Gang Baru
Semuanya berawal ketika eke yang kerja di Tuban, Jawa Timur ini mulai merindukan makanan khas Semarang yang tidak bisa ditemui di Tuban. Eke inget betul bahwa dulu ketika eke masih kanak-kanak, eke ga doyan sama itu mie kopyok. Mie kopyok yang hanya berkuah bawang putih dan kecap serta berlauk tahu goreng itu jelas tidak menarik bagi anak-anak. Namun setelah dewasa eke baru mengerti kenikmatan dibalik kesederhanaan mie kopyok yang membuat kangen. Ketika googling mie kopyok Semarang, yang termahsyur adalah Mie Kopyok buatan Pak Dhuwur yang warungnya terletak di Jalan Tanjung. Memang mie kopyok Pak Dhuwur sudah terkenal dan masuk dalam acara “Wisata Kuliner”-nya Pak Bondan Winarno yang ditayangkan di tv. Jelas ini memprovokasi eke dan sangat membuat eke penasaran untuk menjadwalkan pencicipannya saat di Semarang nanti. Setelah menikmati mie kopyok Pak Dhuwur bersama poppy n mommy, maka yang terlintas di benak adalah: rasanya biasa saja dan harganya terlalu mahal, Rp 12,000 untuk sekelumit mie kopyok yang rasanya kurang nendang walau sudah disediakan kuah bawang di meja-mejanya. Hal ini membuat eke mengambil kesimpulan bahwa ga semua makanan yang ditampilkan dalam Wisata Kuliner benar-benar mak nyus. Dengan sajian mie kopyok Pak Dhuwur yang seperti itu, sontak mommy menginformasikan bahwa ada mie kopyok yang lebih enak, porsi yang lebih banyak, dan murah di dekat Pasar Gang Baru.
Penampakan gerobaknya tertulis disitu "mie lontong" hehe

Omongan mommy terbukti benar, mie kopyok gerobakan yang lekas habis jika menjelang siang ini memang enak. Kuahnya berasa bawang yang kuat dan gurih. Penjualnya pun menyajikan dengan cepat. Tak usah khawatir untuk tak bisa menyantap mie kopyok dengan nyaman, karena penjualnya sudah menyiapkan beberapa bangku plastik yang dijajar di depan toko-toko yang tutup di pagi hari. Bagi yang belum tahu apa itu mie kopyok, maka mie kopyok adalah makanan yang cukup lumayan untuk mengganjal perut berisi potongan lontong, mie telur kuning, potongan tahu goreng, berkuah bawang putih, ber-topping kecambah, remukan kerupuk gendar, cincangan daun seledri dan siraman kecap. Sederhana namun segar. Mie kopyok ini dijual dengan harga Rp 6,000, belakangan sekitar akhir tahun 2013 harganya naik seribu rupiah. O iya, mie kopyok ini mangkal di deretan parkir 10 meter setelah Pasar Gang Baru, (kalo tidak salah) depan rumah makan Mahkota (rumah makan dengan plang pengurus RT/RW setempat). Nah untuk mengguyur kerongkongan setelah menyantap mie kopyok tersebut, di sampingnya persis terdapat tukang jual wedang tahu. Wedang tahu ini ya wedang dengan potongan tahu yang lembut berkuah air jahe jernih yang hangat di tenggorokan. Wedang tahunya pun menurut eke recommended, harganya sekitar Rp 3,000-an.
Wedang tahu yang hangat dan lembut
Setelah eke n poppy eke selesai menyantap mie kopyok disitu, datanglah mommy dengan membawa belanjaan yang cukup banyak. Tak lupa mommy membeli sarapan dulu. Setelah semuanya komplit masuk ke dalam mobil, cepat-cepat eke mengusulkan untuk mampir ke Lunpia Gang Lombok yang sudah melegenda. Ini juga tak lain karena tim Ceriwis telah meliput wisata kuliner disitu yang cukup membuat eke terprovokasi.
 
Lunpia Gang Lombok, Semarang
Setelah poppy berputar-putar di kawasan Pecinan, Semarang dari Gang Baru maka sampailah di Gang Lombok. Sambil celingak-celinguk di kanan jalan (karena di kiri jalan hanya ada kali) maka ketemu lah Lunpia Gang Lombok yang legendaris itu. Karena tidak memungkinkan parkir di sepanjang gang, maka diputuskan parkir di halaman kelenteng Tay Kak Sie yang lapang. Sebagai orang Semarang asli yang lahir sejak 1989 baru pertama itu eke menyambangi kelenteng Tay Kak Sie. Eh ini to yang namanya kelenteng Tay Kak Sie, asri juga tempatnya. Eke memutuskan berkeliling di Tay Kak Sie setelah menyantap lunpia karena takut kehabisan, hehe. Lunpia Gang Lombok dijajakan di toko berkeramik merah yang sederhana tetapi selalu ramai pengunjung. Beruntung saat berkunjung kesitu masih tersedia bangku yang pas untuk eke, poppy, n mommy. Langsung eke pesan 3 lunpia goreng untuk makan di tempat. Lunpia akhirnya tersaji dalam waktu kira-kira 10 menit kemudian, penjualnya pun sibuk menggoreng lunpia pesanan yang dibungkus dalam kotak besek. Lunpia tersaji dalam keadaan sudah terpotong-potong lengkap dengan saus lem, sedangkan lalapan daun bawang sudah tersaji di meja sedari tadi. Selain sepiring lunpia pun juga disajikan segelas air putih untuk masing-masing orang. Lunpia digoreng dengan sempurna, kuning keemasan. Kulitnya tidak begitu krispi, mengingat lunpianya besar dan isinya gendut. Mestinya sulit juga mengkrispikan lunpia dengan isi yang gendut begitu. Ketika dimakan, lunpia ini tidak terlalu membekas rasa eneg seperti lunpia yang dijual di tempat lain di Semarang, isiannya royal yang terdiri dari rebung yang tidak bau, telur, dan kalo tidak salah ada udangnya.
Warung Lunpia Gang Lombok
 
Ternyata memakan satu buah lunpia pun rasanya perut sudah penuh tak karuan karena sebelumnya sudah diisi satu piring mie kopyok. Btw, harga 1 buah lunpia ini cukup mahal Rp 12,000. Jika lunpia yang dijual di tempat lainnya (Mataram dan Pandanaran) berkisar antara Rp 5,000 – 9,000. Meskipun begitu, orang-orang yang sudah terlanjur suka dengan lunpia Gang Lombok ini sepertinya tidak masalah dengan harga segitu. Buktinya waktu itu ada ibu-ibu berkerudung yang sepertinya dari luar Semarang memborong berbesek-besek lunpia Gang Lombok untuk oleh-oleh. Tentang kehalalan lunpia Gang Lombok sendiri, eke juga kurang yakin. Eke hanya berbekal pengalaman dari Indra Bekti yang udah pernah makan dan sekaligus meliput acara makannya di tv. Lalu, ibu-ibu berkerudung yang memborong lunpia itu juga tampak yakin-yakin saja. Hanya saja, eke cukup makan disitu sekali saja. Cukup tau rasa dan sensasinya saja, untuk menghindari ketidakjelasan bahan maupun proses memasaknya karena di samping lapak lunpia itu dikelilingi oleh warung-warung yang menjajakan makanan non-halal. Ini yang baru eke sadari setelah makan lunpia disitu dan cukup bikin eke ill feel. Hasil dari googling barusan, menurut informasi lunpia Gang Lombok saat ini sudah halal karena banyaknya permintaan untuk lunpia isi daging ayam dan udang. Semoga yang udah eke makan termasuk ke dalam golongan halal n eke berharap lunpia Gang Lombok ke depannya dapat menghasilkan produk yang resmi halalnya.
Ini dia lunpianya, ukurannya bohai!
 
Nah, keluar dari lapak lunpia. Eke sempatkan berkeliling sebentar di pelataran kelenteng Tay Kak Sie. Waktu itu suasana sepi, eke juga ga berani masuk ke dalam kelenteng apakah boleh dilihat-lihat atau khusus untuk ibadah saja. Eke ga berani tanya dengan orang-orang sekitar karena eke juga ga ada tujuan jalan-jalan disitu. Namun menurut eke suasana di pelataran Tay Kak Sie cukup asri, ornamen-ornamen budaya Cina kental terasa dan tersusun rapi. Terlihat patung Buddha duduk dengan anggun di bawah pohon bodhi yang cantik. Eke sempatkan mengambil gambar dengan kamera hp seadanya. Lain kali kalau ada waktu, eke sempatkan jalan-jalan ke Tay Kak Sie sambil membawa jajanan yang halal :p.
 

Patung Laksamana Cheng Ho
 
Ornamen cantik di tengah-tengah pelataran
Kelenteng Tay Kak Sie di kawasan Gang Lombok, Semarang
 
Patung Buddha di atas singgasananya yang rindang di bawah pohon bodhi yang anggun
 
Salam cinta Semarang.

Popular Posts